Blog

Bergembira Menyambur Ramadhan

Alhamdulillah Ramadhan sebentar lagi, bulan yang senantiasa dinanti oleh hati-hati yang rindu dengan keberkahan, kemuliaan, dan ampunan di bulan suci umat muslim ini. Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena  ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.

Allah berfirman,

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yanh lalu) mereka.

Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?

Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada Allah

Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”[HR. Ahmad]

Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ

‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)

ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ

“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah hanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“[Ahaditsus Shiyam hal. 13]

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,

ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ .

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu.  Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan).[Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148]

Catatan: Hadits Dhaif Terkait Kegembiraan Menyambut Ramadhan

Ada hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu)

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

Demikian semoga bermanfaat
Sumber: muslim.or.id

Advertisements

Pembebasan Tanah Bangunan Masjid At-Taqwa sebagai Investasi Akhirat

Bismillah, Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas limpahan rahmat dan kaunia-Nya, shalawat dan salam semoga teteap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa sallam.

Masjid At-Taqwa adalah sebuah masjid di Distrik Dayuan, Kota Taoyuan, Taiwan. Masjid tersebut merupakan masjid ketujuh dan terbaru di Taiwan yang telah selesai dibangun dan diresmikan pada 9 juni 2013. di negara Taiwan muslim sangatlah minoritas, jumlah penduduk Muslim di Taiwan kurang lebih hanya berkisar di angka 0.3% saja. Mari kita kenali satu per satu masjid-masjid yang sudah ada di Taiwan:

  1. Grand Mosque Taipei, Taipei (台北清真寺 – táiběi qīngzhēnsì)
  2. Cultural Mosque, Taipei  (台北文化清真寺– táiběi wénhuà qīngzhēnsì)
  3. Longgang Mosque, Chungli (龍崗清真寺 – lónggǎng qīngzhēnsì)
  4. Taichung Mosque (台中清真寺 – táizhōng qīngzhēnsì)
  5. Kaohsiung Mosque (高雄清真寺 – gāoxióng qīngzhēnsì)
  6. Tainan Mosque (台南清真寺 – táinán qīngzhēnsì)
  7. Masjid At-Taqwa ( 大園清真寺 Dàyuán Qīngzhēnsì)

Melihat keseluruhan nama masjid yang ada di Taiwan tersebut, maka kata “Masjid At-Taqwa” menjadi sebuah ejaan yang asing hadir di telinga khususnya muslim taiwan. Namun tidak bagi para Muslim Indonesia di Taiwan. Ya, Masjid At-Taqwa adalah masjid ke-7 yang  hadir di Taiwan yang dipelopori oleh sepasang suami-istri Taiwan-Indonesia, Bapak Muhammad Yasin (Taiwan) dan Ibu Hasana (Indonesia). Beliau berdua bukanlah “hartawan”, beliau memiliki sebuah toko sederhana (kami biasa menyebut toko semacam ini dengan sebutan “Toko Indonesia”) yang menjual berbagai makanan khas Indonesia dan perlengkapan sehari-hari. Di daerah sekitar sana pun dapat kita jumpai banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di pabrik-pabrik atau pada sektor  rumah tangga.

Masjid itu bermula dari sebuah petak tanah di samping rumah pasangan tsb, tanah tersebut adalah milik seorang warga asli Taiwan yang kemudian  berpindah tangan kepada Bapak Muhammad Yasin dengan proses yang cukup rumit. Perjuangan awal pasangan ini untuk mendirikan masjid tidaklah mudah. Dengan mengeluarkan harta secara maksimal, bahkan hingga berhutang, harus memenuhi tuntutan pembangunan di Taiwan yang rumit dan mahal, dan masih banyak hambatan lainnya yang dihadapi oleh mereka. Namun hal ini sama sekali tidak meruntuhkan semangat mereka untuk menghadirkan taman surga di gersang nya Bumi Formosa.

Bekerja sama dengan banyak pihak, organisasi, dan perwakilan pemerintah di Indonesia yang sedikit demi sedikit mengumpulkan dana untuk berdirinya Masjid At-Taqwa ini, alhamdulillah, bi idznillah, hampir satu tahun proses pembangunan, kini masjid dengan ukuran (kurang lebih) 5 m x 26 m itu telah berdiri. Masjid At-Taqwa terdiri dari 3 (tiga) lantai yang difungsikan sebagai berikut: lantai pertama digunakan untuk tempat shalat pria, lantai kedua untuk tempat shalat wanita dan ruang tamu, serta lantai ketiga digunakan untuk kelas dan kamar-kamar penginapan.

Total perkiraan biaya yang dihabiskan  untuk menyelesaikan pembangunan Masjid berkisar  NTD 9.000.000,00 (Rp 2.950.000.000,00) . Alhamdulillah, saat ini  masjid At-Taqwa sudah digunakan  sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan.

Namun  masih terdapat kendala pada tanah disamping masjid yang telah dibangun sebagai tempat makan dan tempat wudhu tersebut masih belum dapat terselesaikan.  bangunan tersebut masih harus membayar sewa tanah setiap bulannya pada pemilik tanah sebesar NTD.5000/bulan.  telah terjadi kesepakatan antara pemilik tanah dengan pihak pengurus masjid, diberikan tenggang waktu selama 5 tahun untuk melunasi tanah satu kapling yang berukuran 20mx5m tsb dengan harga NTD.5 juta.  sekarang sudah berjalan hampir dua tahun dan belum dapat terkumpul dana untuk membebaskan tanah tersebut.

Ibadah sebagai salah satu menifestasi kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memperoleh Ridho-Nya dalam hidup ini. Maka peran dan fungsi masjid disini akan menjadi sangat penting. Tak pelak lagi bagi kaum muslimin yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa membangun dan memakmurkan rumah Allah tersebut menjadi sebuah kewajiban dimanapun umat islam berada.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Sehubungan dengan maksud artikel di atas, kami mengajak sahabat semua untuk dapat menyisihkan sebagian rizqinya guna pembebasan tanah dalam rangka Perluasan & Pengembangan Masjid At-Taqwa.

Semoga niat dan kemurahan hati para sahabat donatur dicatat oleh Allah Suhnahu wa Ta’ala sebagai amal sholeh kelak yang terus mengalir hingga yaumul akhir dan menjadi sebab-sebab kembali suburnya dakwah Islam di bumi Formosa. Aamiin

informasi lebih lanjut dapat menghubungi  Sahabat Fillah 

JANGAN LUPA UNTUK BERBAGI

Bagi sebagian orang berbagi mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya karena banyak manfaat yang telah mereka rasakan. Berbagi memang proses sederhana tapi berat untuk dilakukan jika tidak terbiasa, untuk berbagi tidak harus dengan nilai nilai yang bisa di ukur dengan materi karena filosofi berbagi itu cukup sederhana

Berbagi adalah sebuah proses memberi dengan apa yang kita punya pada diri kita ,berbagi ilmu,pengetahuan,materi dll,dengan tujuan membantu memberikan keringanan bagi mereka yang membutuhkan.  Sebagai seorang muslim kita biasa menyebut berbagi dengan kata sedekah. sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang, karena sedekah identik dengan orang yang ‎pemurah dan suka memberi. Bagaimana bisa? Orang yang bersedekah akan rela memberikan ‎apa yang mereka punya serta mengikhlaskan apa yang mereka usahakan dengan tenaga dan ‎waktunya. Sebenarnya di balik proses memberi ada banyak manfaat diantaranya keberkahan rizki, hati menjadi tentram,menumbuhkan rasa kekeluargaan, menumbuhkan sikap dermawan, dan yang paling utama dengan berbagi, kita akan mendapat banyak pahala, kelimpahan kebahagiaan, entah itu berupa rezeki, hal-hal yang bersifat menguntungkan atau yang lain.

 

Allah Ta’ala berfirman;  “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7).. “Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa harta hanyalah titipan Allah. karena Allah Ta’ala firmankan “Hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” Hakikatnya, harta tersebut adalah milik Allah. Allah Ta’ala yang beri kekuasaan pada makhluk untuk menguasai dan memanfaatkannya serta Allah juga yang akan memberi balasannya.

Mengingat banyak suadara-saudara kita yang membutuhkan uluran bantuan, dengan cara ini semoga kita dapat belajar memaknai arti hidup, bahwa hidup bukan untuk diri sendiri melainkan untuk bermanfaat bagi orang lain juga, meskipun itu hal sederhana. dengan kata lain orang itu berguna dan membantu bagi orang yang membutuhkan.

Dengan berbagi juga mengingatkan kita untuk hidup sederhana dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selama kita mampu berbagi meski itu hanya dengan sedikit ‎saja menarik wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang indah dan manis  kepada orang lain, mengapa tidak kita lakukan?

Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu”! (HR. At-Tirmidzi)

 

Oleh; Siti Nur Azizah (DPU Darut Tauhid Cabang Taiwan )

KISAH PILU BENCANA LONGSOR PONORO

Bismillah, Alhamdulilah segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas limpahan rahmat, hidayahnya serta begitu banyaknya nikamat yang wajib untuk kita syukuri. shalawat teriring salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu A’alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, tabi’in serta umat beliau yang senantiasa istiqomah di atas sunnahnya. Aamiin

Siapa sangga desa Bandaran yang dulunya damai dan tenang, kini berubah menjadi porak-poranda. Ratusan warga panik saat tanah longsor menerjang kampung mereka sabtu pagi (4/01). Hampir semua korban yang selamat dari maut dievakuasi ke tempat penggungsian mengalami syok dan trauma berat. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana keluarga yang mereka sayangi satu persatu hilang tertimbun tanah longsor. Mirisnya lagi bencana datang saat mereka tengah memanen jahe. Sebab mayoritas mata pencaharian warga desa Bandaran adalah bertani untuk menyambung hidup serta membiayai sekolah anak.

Dihari ke-4 pasca longsor ini jumlah pengungsi bertambah dari 200 menjadi 300 pengungsi. Beberapa penggungsi mengaku sakit dan mendatangi posko kesehatan untuk mendapatkan pengobatan. Terkait evakuasi korban terus dilakukan oleh para petugas, namun sempat terhenti demi faktor keamaan karena hujan yang cukup deras , mengingat kondisi tanah yang terus bergerak serta licin.

BPBD Ponorogao mencatat kabupaten ponorogo adalah salah satu daerah dengan tingkat kerawanan longsor yang cukup besar. Penyebabnya  adalah hilangnya kawasan hutan dan areal perbukitan menjadi lahan pertanian dan pemukiman milik warga. Alih fungsi hutan dan perbukitan selama puluhan tahun inilah  menjadi salah satu penyebab terjadinya tanah longsor. Tidak ada lagi Pohon-pohon disekitar bukit yang mampu menahan agar tidak terjadi erosi.

Bencana memang tidak ada yang tahu kapan datangnya, jika Tuhan sudah berkehendak tidak ada yang bisa menolaknya. Warga Bandaran hanya bisa pasrah, 300 jiwa lebih kehilangan temapt tinggal. Mereka kini membutuhkan bantuan dari kita semua.

SahabatFillah Taiwan membuka Donasi bantuan Ponorogo, untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi kami di SahabatFillah Taiwan atas doa dan bantuannya kami ucapakan Jazakallah khairan katsiran.

“Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kami sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)

MASJID AT-TAQWA TOUYUAN TAIWAN

Bismillah, Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas limpahan rahmat dan kaunia-Nya, shalawat dan salam semoga teteap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa sallam.

Masjid At-Taqwa adalah sebuah masjid di Distrik Dayuan, Kota Taoyuan, Taiwan. Masjid tersebut merupakan masjid ketujuh dan terbaru di Taiwan yang telah selesai dibangun dan diresmikan pada 9 juni 2013. di negara Taiwan muslim sangatlah minoritas, jumlah penduduk Muslim di Taiwan kurang lebih hanya berkisar di angka 0.3% saja. Mari kita kenali satu per satu masjid-masjid yang sudah ada di Taiwan:

  1. Grand Mosque Taipei, Taipei (台北清真寺 – táiběi qīngzhēnsì)
  2. Cultural Mosque, Taipei  (台北文化清真寺– táiběi wénhuà qīngzhēnsì)
  3. Longgang Mosque, Chungli (龍崗清真寺 – lónggǎng qīngzhēnsì)
  4. Taichung Mosque (台中清真寺 – táizhōng qīngzhēnsì)
  5. Kaohsiung Mosque (高雄清真寺 – gāoxióng qīngzhēnsì)
  6. Tainan Mosque (台南清真寺 – táinán qīngzhēnsì)
  7. Masjid At-Taqwa ( 大園清真寺 Dàyuán Qīngzhēnsì)

Melihat keseluruhan nama masjid yang ada di Taiwan tersebut, maka kata “Masjid At-Taqwa” menjadi sebuah ejaan yang asing hadir di telinga khususnya muslim taiwan. Namun tidak bagi para Muslim Indonesia di Taiwan. Ya, Masjid At-Taqwa adalah masjid ke-7 yang  hadir di Taiwan yang dipelopori oleh sepasang suami-istri Taiwan-Indonesia, Bapak Muhammad Yasin (Taiwan) dan Ibu Hasana (Indonesia). Beliau berdua bukanlah “hartawan”, beliau memiliki sebuah toko sederhana (kami biasa menyebut toko semacam ini dengan sebutan “Toko Indonesia”) yang menjual berbagai makanan khas Indonesia dan perlengkapan sehari-hari. Di daerah sekitar sana pun dapat kita jumpai banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di pabrik-pabrik atau pada sektor  rumah tangga.

Masjid itu bermula dari sebuah petak tanah di samping rumah pasangan tsb, tanah tersebut adalah milik seorang warga asli Taiwan yang kemudian  berpindah tangan kepada Bapak Muhammad Yasin dengan proses yang cukup rumit. Perjuangan awal pasangan ini untuk mendirikan masjid tidaklah mudah. Dengan mengeluarkan harta secara maksimal, bahkan hingga berhutang, harus memenuhi tuntutan pembangunan di Taiwan yang rumit dan mahal, dan masih banyak hambatan lainnya yang dihadapi oleh mereka. Namun hal ini sama sekali tidak meruntuhkan semangat mereka untuk menghadirkan taman surga di gersang nya Bumi Formosa.

Bekerja sama dengan banyak pihak, organisasi, dan perwakilan pemerintah di Indonesia yang sedikit demi sedikit mengumpulkan dana untuk berdirinya Masjid At-Taqwa ini, alhamdulillah, bi idznillah, hampir satu tahun proses pembangunan, kini masjid dengan ukuran (kurang lebih) 5 m x 26 m itu telah berdiri. Masjid At-Taqwa terdiri dari 3 (tiga) lantai yang difungsikan sebagai berikut: lantai pertama digunakan untuk tempat shalat pria, lantai kedua untuk tempat shalat wanita dan ruang tamu, serta lantai ketiga digunakan untuk kelas dan kamar-kamar penginapan.

Total perkiraan biaya yang dihabiskan  untuk menyelesaikan pembangunan Masjid berkisar  NTD 9.000.000,00 (Rp 2.950.000.000,00) . Alhamdulillah, saat ini  masjid At-Taqwa sudah digunakan  sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan.

Namun  masih terdapat kendala pada tanah disamping masjid yang telah dibangun sebagai tempat makan dan tempat wudhu tersebut masih belum dapat terselesaikan.  bangunan tersebut masih harus membayar sewa tanah setiap bulannya pada pemilik tanah sebesar NTD.5000/bulan.  telah terjadi kesepakatan antara pemilik tanah dengan pihak pengurus masjid, diberikan tenggang waktu selama 5 tahun untuk melunasi tanah satu kapling yang berukuran 20mx5m tsb dengan harga NTD.5 juta.  sekarang sudah berjalan hampir dua tahun dan belum dapat terkumpul dana untuk membebaskan tanah tersebut.

Ibadah sebagai salah satu menifestasi kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memperoleh Ridho-Nya dalam hidup ini. Maka peran dan fungsi masjid disini akan menjadi sangat penting. Tak pelak lagi bagi kaum muslimin yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa membangun dan memakmurkan rumah Allah tersebut menjadi sebuah kewajiban dimanapun umat islam berada.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Sehubungan dengan maksud artikel di atas, kami mengajak sahabat semua untuk dapat menyisihkan sebagian rizqinya guna pembebasan tanah dalam rangka Perluasan & Pengembangan Masjid At-Taqwa.

Semoga niat dan kemurahan hati para sahabat donatur dicatat oleh Allah Suhnahu wa Ta’ala sebagai amal sholeh kelak yang terus mengalir hingga yaumul akhir dan menjadi sebab-sebab kembali suburnya dakwah Islam di bumi Formosa. Aamiin

informasi lebih lanjut dapat menghubungi  Sahabat Fillah 

 

 

Amalan Sunnah di Bulan Rajab

Amalan Sunah di Bulan Rajab

Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan Rajab adalah hadis bathil dan tertolak.

Ibnu Hajar mengatakan,

لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ

“Tidak terdapat riwayat yang shahih, bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab atau shalat tahajjud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh ketengan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al Harawi.” (Tabyinul Ujub bimaa Warada fii Fadli Rajab, Hal. 6)

Imam Ibn Rajab mengatakan,

أما الصلاة فلم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء

“Tidak terdapat dalil yang shahih, yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, bathil, dan tidak shahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 213)

Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan, tidak ada satu pun hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan,

في الجنة قصر لصوام رجب

“Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.”

Namun riwayat bukan hadis. Imam Al Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah:

أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ

“Abu Qilabah termasuk tabi’in senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu kecuali karena kabar tanpa sanad.” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 213)

Pertama, Puasa sunah bulan haram

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)
Akan tetapi, jika seseorang melaksanakan puasa di bulan Rajab dengan niat puasa sunah di bulan-bulan haram, maka ini dibolehkan bahkan dianjurkan. Mengingat sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu ketika datang seseorang dari suku Al Bahili menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “Dua hari setiap bulan”. Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “Tiga hari setiap bulan.” orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فمن الحرم و أفطر

Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).” (Hadis ini dishahihkan sebagaian ulama dan didhaifkan ulama lainnya). Namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram. Dinataranya: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai’i.

Kedua, Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab
Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan umrah di bulan Rajab. Kemudian ucapan beliau ini diingkari Aisyah.

يغفر الله لأبي عبد الرحمن، لعمري، ما اعتمر في رجب

“Semoga Allah mengampuni Abu Abdirrahmah (Ibnu Umar). Sepanjang usiaku, beliau belum pernah Umrah di bulan Rajab.”
Ibnu Umar mendengar hal ini dan beliau diam saja. (HR. Muslim, 1255)

Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lainnya menganjurkan umrah bulan Rajab. Aisyah dan Ibnu Umar juga melaksanakan umrah bulan Rajab.

Ibnu Sirin menyatakan, bahwa para sahabat melakukan hal itu. Karena rangkaian haji dan umrah yang paling bagus adalah melaksanakan haji dalam satu perjalanan sendiri dan melaksanakan umrah dalam satu perjalanan yang lain, selain di bulan haji. (Al Bida’ Al Hauliyah, Hal. 119).

Dari penjelasan Ibnu Rajab menunjukkan bahwa melakukan umrah di bulan Rajab hukumnya dianjurkan. Beliau berdalil dengan anjuran Umar bin Khatab untuk melakukan umrah di bulan Rajab. Dan dipraktikkan oleh Aisyah dan Ibnu Umar.

Diriwayatkan Al Baihaqi, dari Sa’id bin Al Musayib, bahwa Aisyah radliallahu ‘anha melakukan umrah di akhir bulan Dzulhijjah, berangkat dari Juhfah, beliau berumrah bulan Rajab berangkat dari Madinah, dan beliau memulai Madinah, namun beliau mulai mengikrarkan ihramnya dari Dzul Hulaifah. (HR. Al Baihaqi dengan sanad hasan)

Namun ada sebagian ulama yang menganggap umrah di bulan Rajab tidak dianjurkan. Karena tidak ada dalil khusus terkait umrah bulan Rajab. Ibnu Atthar mengatakan, “Di antara berita yang sampai kepadaku dari penduduk Mekah, banyaknya kunjungan di bulan Rajab. Kejadian ini termasuk masalah yang belum kami ketahui dalilnya. Bahkan terdapat hadis yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji’.” (HR. Al Bukhari)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengatakan, bahwa para ulama mengingkari sikap mengkhususkan bulan Rajab untuk memperbanyak melaksanakan umrah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6:131)

Kesimpulan:
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, mengkhususkan umrah di bulan Rajab adalah perbuatan yang tidak ada landasannya dalam syariat. Karena tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan anjuran mengkhususkan bulan Rajab untuk pelaksanaan umrah. Disamping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah melakukan umrah di bulan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.

Andaikan ada keutamaan mengkhususkan umrah di bulan Rajab, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberi tahukan kepada umatnya. Sebagaimana beliau memberi tahu umatnya akan keutamaan umrah di bulan Ramadlan. Sedangkan riwayat dari Umar bahwa beliau menganjurkan umrah di bulan Rajab, yang benar sanadnya dipermasalahkan.

Ketiga, Menyembelih hewan (Atirah)
Atirah adalah hewan yang disembelih di bulan Rajab untuk tujuan beribadah.

Ulama berselisih pendapat tentang hukum Atirah.

Pendapat pertama, athirah dianjurkan. Dalilnya adalah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Athirah, kemudian beliau menjawab:

الْعَتِيرَةُ حَقٌّ

“Athirah itu hak.” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan As Suyuthi dalam Jami’us Shaghir)

Pendapat kedua, Atirah tidak disyariatkan, namun tidak makruh. Dalilnya, hadis dari Abu Razin, Laqirh bin Amir Al Uqaili, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami menyembelih hewan di bulan Rajab di zaman Jahilliyah. Kami memakannya dan memberi makan tamu yang datang.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masalah.” (HR. An Nasa’i, Ad Darimi, dan Ibn Hibban)

Pendapat ketiga, Atirah hukumnya makruh. Berdasarkan hadis, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ

Tidak ada Fara’a dan tidak ada Atirah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Fara’a adalah anak pertama binatang, yang disembelih untuk berhala.

Pendapat keempat, Atirah hukumnya haram. Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnul Qoyim dan Ibnul Mundzir. Ibnul Qoyim mengatakan, “Dulu masyarakat Arab melakukan Atirah di masa jahiliyah, kemudian mereka tetap melakukannya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendukungnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya, melalui sabdanya, “Tidak ada fara’a dan tidak ada Atirah.” akhirnya para sahabat meninggalkannya, karena adanya larangan beliau. Dan telah dipahami bersama, bahwa larangan itu hanya akan muncul, jika sebelumnya ada yang melakukannya. Sementara tidak kita jumpai adanya satupun ulama yang mengatakan, Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Atirah kemudian beliau membolehkannya kembali…” (Tahdzib Sunan Abu Daud, 4:92 – 93). Insya Allah, pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran.
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

LANGKAH DAKWAH ON THE STREET OLEH BMI BERCADAR DI TAIWAN

Wilayah Taipe memang diselimuti awan dan hujan sejak hari sabtu pagi ditambah lagi udara yg makin turun hari itu , tentu saja hal ini membuat ketar ketir SF(sahabat Fillah)karena rencana kopdar yang direncanakan memang di outdor.

Ahad pagi, meleset dri prakiraan cuaca yg diberitakan kemarin di tv lokal yg mengatakan bhwa Taipe akan hujan sepanjang hari dri pagi hingga malam
Ternyata cuaca cerah, tak panas dan tidak hujan tak pula dingin
Alhamdulillah, semakin membuat anggota SF semangat untuk melakukan aksi inti di siang hari nnti

Tapi ditengah semangat yg makin tinggi Qodarullah menjelang jam sholat dzuhur ternyata hujan turun, makin siang udara semakin dingin
Semangat yg tadinya begitu membara tiba2 sja harus redup diguyur hujan yg makin siang makin deras.

Ba’da dzuhur setelah selesai makan siang pimpinan anggota sempat memberi instruksi untuk membatalkan aksi inti di ximending krna cuaca memang sangat tidak mendukung untuk melakukan aksi inti itu tapi ternyata anggota yg lain masih memiliki semangat yang luar biasa
Mereka tetap meminta untuk melakukan aksi inti sesuai rencana awal
Setelah berunding akhirnya semua sepakat untuk tetap melaksanakan aksi inti di ximending bagaimanapun cuaca ny, krna mereka yakin jika Allah memang ridho terhadap aksi ini inshaallah cuaca akan membaik.

Dengan hati yg harap2 cemas sambil tak henti2nya doa, anggota bergerak menuju tempat inti
Sampai ditempat hujan masih saja turun,udara masih terasa dingin
Anggota berunding untuk menentukan tempat yang pas dan tugas untuk masing2 anggota,you know??setelah semua deal tersusun rapi
Masyaallah, alhamdulillah tiba2 cuaca berbalik
Hujan tiba2 berhenti, cuaca menjadi cerah, udara tidak lagi dingin
Kekuatan Allah benar2 nyata pada hari itu, bahkan kemustahilan yang tidak mungkin sekalipun bisa dengan cepat berbalik menjadi sesuatu yg sangat indah hanya dengan doa dan rasa huznuzon pada Allah

Acaranya berlanjut, berjalan sangat lancar
Melebihi espektasi kami
Begitu banyak wisatawan yang tertarik pada aksi kami, mereka begitu antusias untuk mencoba memakai hijab bahkan ada beberapa yg mencoba pakai niqab seperti yang kami kenakan , dan ternyata lebih dari itu banyak sekali pandangan yang berubah setelah melihat kami,dan sedikit berbincang dengan SF tentang islam,
dri yang tadinya mereka hanya mengenal bahwa islam adalah teroris dan yang bercadar itu adalah isis
Sekarang mereka sudah sedikit mengerti bahwa kami muslim, dan kami mencintai perdamaian
Kami islam dan kami bukanlah teroris

Alhamdulillah
Semoga perjuangan kecil kami bisa merubah paradigma buruk dan ketakutan besar mereka terhadap islam terutama yang menggunakan niqab

#kami sahabat fillah memang kecil tapi kami punya harapan besar untuk kemajuan dan nama baik ISLAM di Taiwan 🌸

Penulis : Sahabat fillah BMI TAIWAN PEDULI

Taipei City, ximending
Ahad, 26 Maret 2017