JANGAN LUPA UNTUK BERBAGI

Bagi sebagian orang berbagi mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya karena banyak manfaat yang telah mereka rasakan. Berbagi memang proses sederhana tapi berat untuk dilakukan jika tidak terbiasa, untuk berbagi tidak harus dengan nilai nilai yang bisa di ukur dengan materi karena filosofi berbagi itu cukup sederhana

Berbagi adalah sebuah proses memberi dengan apa yang kita punya pada diri kita ,berbagi ilmu,pengetahuan,materi dll,dengan tujuan membantu memberikan keringanan bagi mereka yang membutuhkan.  Sebagai seorang muslim kita biasa menyebut berbagi dengan kata sedekah. sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang, karena sedekah identik dengan orang yang ‎pemurah dan suka memberi. Bagaimana bisa? Orang yang bersedekah akan rela memberikan ‎apa yang mereka punya serta mengikhlaskan apa yang mereka usahakan dengan tenaga dan ‎waktunya. Sebenarnya di balik proses memberi ada banyak manfaat diantaranya keberkahan rizki, hati menjadi tentram,menumbuhkan rasa kekeluargaan, menumbuhkan sikap dermawan, dan yang paling utama dengan berbagi, kita akan mendapat banyak pahala, kelimpahan kebahagiaan, entah itu berupa rezeki, hal-hal yang bersifat menguntungkan atau yang lain.

 

Allah Ta’ala berfirman;  “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7).. “Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa harta hanyalah titipan Allah. karena Allah Ta’ala firmankan “Hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” Hakikatnya, harta tersebut adalah milik Allah. Allah Ta’ala yang beri kekuasaan pada makhluk untuk menguasai dan memanfaatkannya serta Allah juga yang akan memberi balasannya.

Mengingat banyak suadara-saudara kita yang membutuhkan uluran bantuan, dengan cara ini semoga kita dapat belajar memaknai arti hidup, bahwa hidup bukan untuk diri sendiri melainkan untuk bermanfaat bagi orang lain juga, meskipun itu hal sederhana. dengan kata lain orang itu berguna dan membantu bagi orang yang membutuhkan.

Dengan berbagi juga mengingatkan kita untuk hidup sederhana dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selama kita mampu berbagi meski itu hanya dengan sedikit ‎saja menarik wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang indah dan manis  kepada orang lain, mengapa tidak kita lakukan?

Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu”! (HR. At-Tirmidzi)

 

Oleh; Siti Nur Azizah (DPU Darut Tauhid Cabang Taiwan )

KISAH PILU BENCANA LONGSOR PONORO

Bismillah, Alhamdulilah segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas limpahan rahmat, hidayahnya serta begitu banyaknya nikamat yang wajib untuk kita syukuri. shalawat teriring salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu A’alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, tabi’in serta umat beliau yang senantiasa istiqomah di atas sunnahnya. Aamiin

Siapa sangga desa Bandaran yang dulunya damai dan tenang, kini berubah menjadi porak-poranda. Ratusan warga panik saat tanah longsor menerjang kampung mereka sabtu pagi (4/01). Hampir semua korban yang selamat dari maut dievakuasi ke tempat penggungsian mengalami syok dan trauma berat. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana keluarga yang mereka sayangi satu persatu hilang tertimbun tanah longsor. Mirisnya lagi bencana datang saat mereka tengah memanen jahe. Sebab mayoritas mata pencaharian warga desa Bandaran adalah bertani untuk menyambung hidup serta membiayai sekolah anak.

Dihari ke-4 pasca longsor ini jumlah pengungsi bertambah dari 200 menjadi 300 pengungsi. Beberapa penggungsi mengaku sakit dan mendatangi posko kesehatan untuk mendapatkan pengobatan. Terkait evakuasi korban terus dilakukan oleh para petugas, namun sempat terhenti demi faktor keamaan karena hujan yang cukup deras , mengingat kondisi tanah yang terus bergerak serta licin.

BPBD Ponorogao mencatat kabupaten ponorogo adalah salah satu daerah dengan tingkat kerawanan longsor yang cukup besar. Penyebabnya  adalah hilangnya kawasan hutan dan areal perbukitan menjadi lahan pertanian dan pemukiman milik warga. Alih fungsi hutan dan perbukitan selama puluhan tahun inilah  menjadi salah satu penyebab terjadinya tanah longsor. Tidak ada lagi Pohon-pohon disekitar bukit yang mampu menahan agar tidak terjadi erosi.

Bencana memang tidak ada yang tahu kapan datangnya, jika Tuhan sudah berkehendak tidak ada yang bisa menolaknya. Warga Bandaran hanya bisa pasrah, 300 jiwa lebih kehilangan temapt tinggal. Mereka kini membutuhkan bantuan dari kita semua.

SahabatFillah Taiwan membuka Donasi bantuan Ponorogo, untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi kami di SahabatFillah Taiwan atas doa dan bantuannya kami ucapakan Jazakallah khairan katsiran.

“Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kami sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)

Amalan Sunnah di Bulan Rajab

Amalan Sunah di Bulan Rajab

Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan Rajab adalah hadis bathil dan tertolak.

Ibnu Hajar mengatakan,

لم يرد في فضل شهر رجب ، ولا في صيامه ، ولا في صيام شيء منه معين ، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة ، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ

“Tidak terdapat riwayat yang shahih, bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab atau shalat tahajjud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh ketengan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al Harawi.” (Tabyinul Ujub bimaa Warada fii Fadli Rajab, Hal. 6)

Imam Ibn Rajab mengatakan,

أما الصلاة فلم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به و الأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب و باطل لا تصح و هذه الصلاة بدعة عند جمهور العلماء

“Tidak terdapat dalil yang shahih, yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, bathil, dan tidak shahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 213)

Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan, tidak ada satu pun hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan,

في الجنة قصر لصوام رجب

“Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.”

Namun riwayat bukan hadis. Imam Al Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah:

أبو قلابة من كبار التابعين لا يقول مثله إلا عن بلاغ

“Abu Qilabah termasuk tabi’in senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu kecuali karena kabar tanpa sanad.” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 213)

Pertama, Puasa sunah bulan haram

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)
Akan tetapi, jika seseorang melaksanakan puasa di bulan Rajab dengan niat puasa sunah di bulan-bulan haram, maka ini dibolehkan bahkan dianjurkan. Mengingat sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu ketika datang seseorang dari suku Al Bahili menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “Dua hari setiap bulan”. Orang ini mengatakan: Saya masih kuat, tambahkanlah!. “Tiga hari setiap bulan.” orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فمن الحرم و أفطر

Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).” (Hadis ini dishahihkan sebagaian ulama dan didhaifkan ulama lainnya). Namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram. Dinataranya: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai’i.

Kedua, Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab
Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan umrah di bulan Rajab. Kemudian ucapan beliau ini diingkari Aisyah.

يغفر الله لأبي عبد الرحمن، لعمري، ما اعتمر في رجب

“Semoga Allah mengampuni Abu Abdirrahmah (Ibnu Umar). Sepanjang usiaku, beliau belum pernah Umrah di bulan Rajab.”
Ibnu Umar mendengar hal ini dan beliau diam saja. (HR. Muslim, 1255)

Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lainnya menganjurkan umrah bulan Rajab. Aisyah dan Ibnu Umar juga melaksanakan umrah bulan Rajab.

Ibnu Sirin menyatakan, bahwa para sahabat melakukan hal itu. Karena rangkaian haji dan umrah yang paling bagus adalah melaksanakan haji dalam satu perjalanan sendiri dan melaksanakan umrah dalam satu perjalanan yang lain, selain di bulan haji. (Al Bida’ Al Hauliyah, Hal. 119).

Dari penjelasan Ibnu Rajab menunjukkan bahwa melakukan umrah di bulan Rajab hukumnya dianjurkan. Beliau berdalil dengan anjuran Umar bin Khatab untuk melakukan umrah di bulan Rajab. Dan dipraktikkan oleh Aisyah dan Ibnu Umar.

Diriwayatkan Al Baihaqi, dari Sa’id bin Al Musayib, bahwa Aisyah radliallahu ‘anha melakukan umrah di akhir bulan Dzulhijjah, berangkat dari Juhfah, beliau berumrah bulan Rajab berangkat dari Madinah, dan beliau memulai Madinah, namun beliau mulai mengikrarkan ihramnya dari Dzul Hulaifah. (HR. Al Baihaqi dengan sanad hasan)

Namun ada sebagian ulama yang menganggap umrah di bulan Rajab tidak dianjurkan. Karena tidak ada dalil khusus terkait umrah bulan Rajab. Ibnu Atthar mengatakan, “Di antara berita yang sampai kepadaku dari penduduk Mekah, banyaknya kunjungan di bulan Rajab. Kejadian ini termasuk masalah yang belum kami ketahui dalilnya. Bahkan terdapat hadis yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji’.” (HR. Al Bukhari)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengatakan, bahwa para ulama mengingkari sikap mengkhususkan bulan Rajab untuk memperbanyak melaksanakan umrah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6:131)

Kesimpulan:
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, mengkhususkan umrah di bulan Rajab adalah perbuatan yang tidak ada landasannya dalam syariat. Karena tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan anjuran mengkhususkan bulan Rajab untuk pelaksanaan umrah. Disamping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah melakukan umrah di bulan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.

Andaikan ada keutamaan mengkhususkan umrah di bulan Rajab, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberi tahukan kepada umatnya. Sebagaimana beliau memberi tahu umatnya akan keutamaan umrah di bulan Ramadlan. Sedangkan riwayat dari Umar bahwa beliau menganjurkan umrah di bulan Rajab, yang benar sanadnya dipermasalahkan.

Ketiga, Menyembelih hewan (Atirah)
Atirah adalah hewan yang disembelih di bulan Rajab untuk tujuan beribadah.

Ulama berselisih pendapat tentang hukum Atirah.

Pendapat pertama, athirah dianjurkan. Dalilnya adalah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Athirah, kemudian beliau menjawab:

الْعَتِيرَةُ حَقٌّ

“Athirah itu hak.” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan As Suyuthi dalam Jami’us Shaghir)

Pendapat kedua, Atirah tidak disyariatkan, namun tidak makruh. Dalilnya, hadis dari Abu Razin, Laqirh bin Amir Al Uqaili, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami menyembelih hewan di bulan Rajab di zaman Jahilliyah. Kami memakannya dan memberi makan tamu yang datang.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masalah.” (HR. An Nasa’i, Ad Darimi, dan Ibn Hibban)

Pendapat ketiga, Atirah hukumnya makruh. Berdasarkan hadis, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ

Tidak ada Fara’a dan tidak ada Atirah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Fara’a adalah anak pertama binatang, yang disembelih untuk berhala.

Pendapat keempat, Atirah hukumnya haram. Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnul Qoyim dan Ibnul Mundzir. Ibnul Qoyim mengatakan, “Dulu masyarakat Arab melakukan Atirah di masa jahiliyah, kemudian mereka tetap melakukannya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendukungnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya, melalui sabdanya, “Tidak ada fara’a dan tidak ada Atirah.” akhirnya para sahabat meninggalkannya, karena adanya larangan beliau. Dan telah dipahami bersama, bahwa larangan itu hanya akan muncul, jika sebelumnya ada yang melakukannya. Sementara tidak kita jumpai adanya satupun ulama yang mengatakan, Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Atirah kemudian beliau membolehkannya kembali…” (Tahdzib Sunan Abu Daud, 4:92 – 93). Insya Allah, pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran.
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Wanita Muslimah dengan bedaknya

Berhias, satu kata ini biasanya amatlah identik dengan wanita. Bagaimana tidak, wanita identik dengan kata cantik. Guna mendapatkan predikat cantik inilah, seorang wanita pun berhias. Namun tahukah engkau wahai sahabatku muslimah, bahwa Islam telah mengajarkan pada kita bagaimana cara berhias yang syar’i bagi seorang wanita? Sungguh Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak sepenuhnya melarang seorang wanita ‘tuk berhias, justru ia mengajarkan cara berhias yang baik tanpa harus merugikan, apalagi merendahkan martabat wanita itu sendiri.
Bolehkah wanita muslimah menggunakan bedak di wajahnya?

Jawabannya, boleh sekali. Boleh saja bagi wanita mengenakan bedak dan kosmetik di wajahnya, tujuannya untuk mempercantik diri. Namun ingat,! mempercantik diri di sini hanya untuk suami, bukan untuk laki-laki lain yang bukan mahram, bukan untuk orang luar rumah, bukan untuk mempercantik diri di luar rumah. Lihat sekali lagi tuntutan dalam ayat ini,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31). Baca keterangan ayat ini di sini.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa wanita boleh menggunakan bedak adalah hadits berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ

Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120).

Kalau parfum laki-laki sangat jelas seperti yang dimaksud dalam hadits, itulah yang kita temukan dalam parfum yang digunakan oleh para pria saat ini. Sedangkan parfum wanita adalah parfum yang tidak nampak baunya, namun warnanya nampak. Apa yang dimaksud kalau begitu? Kalau kita lihat dari keterangan Syaikh Abu Malik dalam Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm 420 yang dimaksud adalah bedak. Karena bedak itu warnanya terlihat, baunya tidak.

Larangan Bertabarruj

Adapun kaidah pertama yang harus diperhatikan bagi wanita yang hendak berhias adalah hendaknya ia menghindari perbuatan tabarruj. Tabarruj secara bahasa diambil dari kata al-burj (bintang, sesuatu yang terang, dan tampak). Di antara maknanya adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti: kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis, dan anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan. Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki” (Fathul Qadiir karya asy- Syaukani).

Allah ta‘ala berfirman (yang artinya),

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu …” (QS. Al-Ahzaab, 33: 33).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa‘di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “Arti ayat ini: janganlah kalian (wahai para wanita) sering keluar rumah dengan berhias atau memakai wewangian, sebagaimana kebiasaan wanita-wanita jahiliyah yang dahulu, mereka tidak memiliki pengetahuan (agama) dan iman. Semua ini dalam rangka mencegah keburukan (bagi kaum wanita) dan sebab-sebabnya”.
Adapun syarat yang dikemukakan oleh para ulama ketika wanita ingin berhias diri dengan bedak dan kosmetik:

  1. Tidak tabarruj/berlebihan
  2. Tidak bertujuan mengelabui orang.
  3. Kosmetik yang digunakan tidak berbahaya bagi kulit.

 

Semoga bermanfaat.

 

Referensi;

Sumber : https://rumaysho.com/14080-wanita-muslimah-dengan-bedaknya.html

https://muslimah.or.id/3779-boleh-berhias-tapi-etika-berhias-wanita-muslimah.html

Kejutan Hidup

Hidup ini penuh dengan segala macam kejutan-kejutan.
Banyak hal yang telah matang menjadi buah fikir, dirancang sedemikian rupa, dijadikan dalam agenda, dipanjatkan untuknya doa-doa, ternyata hanyut bersama rajutan hari-hari, tenggelam ke dasar lautan khayal dan mimpi yang tak terwujud.

📝Bak coretan warna-warni, dan aneka bentuk dan corak yang telah dimulai pelukis dan tak rampung terselesaikan, dibiarkan terbang bersama hembusan angin takdir.

📌Sebaliknya ada hal-hal yang terkadang tak pernah hadir di alam angan, tak berwujud di alam mimpi, tiba-tiba menjadi nyata dan hadir di hadapan, lebih indah dari mimpi-mimpi masa silam.

💢Lintasan peristiwa yang pernah dialami, senantiasa mengajarkan kenaifan manusia untuk merancang mimpi-mimpi mereka sendiri tanpa meminta petunjuk kepada Zat yang menentukan segala alur kehidupan anak manusia.

🔹Mimpi-mimpi indah yang dibangun di alam khayal, ternyata menjadi tak indah lagi ketika terwujud. Bahkan menjadi duri dalam daging yang tak lekang bersama gugusan hari-hari. Tinggallah penyesalan yang berkepanjangan sekiranya tak diredam dengan iman kepada goresan tinta takdir yang telah mengering.

📌Hamba yang paling bahagia adalah yang memasrahkan segala urusannya kepada Zat Yang mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak, meridhoi segala keputusanNya, senantiasa bertanya dan bermusyawarah dalam mewujudkan mimpi masa depannya, mencari ridhoNya dalam segala derap langkah dan gerak.

Oleh:Ustadz Abu Fairuz Ahmad,MA

Keutamaan Membantu Korban Bencana

🍃Sahabat, bencana alam yang terjadi merupakan panggilan dari Allah ta’ala agar mereka bersabar, ridho, dan berserah diri kepada-Nya. Ia juga merupakan peringatan agar bertaubat dan memperbaiki diri.

🍂Bagi kita yang tidak terkena bencana, bukan berarti kita lebih suci dan lebih taat dari mereka yang terkena bencana. Ini merupakan peringatan Allah ta’ala agar kita lebih banyak bersyukur dan menjaga nikmat-nikmatNya dengan mempergunakannya dalam ketaatan.

🍁Di balik bencana tersebut terdapat ladang amal shalih yang sangat luas. Inilah saatnya bagi kita untuk meringankan beban mereka. Membantu kebutuhan mereka; makanan, minuman, obat-obatan, air bersih, selimut, dan banyak hal mendesak lainnya yang dibutuhkan oleh mereka.

🌱Di sini Allah ta’ala hendak menguji seberapa jauh kepedulian dan ketanggapan kita dalam menolong saudara kita yang sedang kesusahan.

🌴Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ… وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

🌿“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya… Barangsiapa mengurus kebutuhan saudaranya niscaya Allah akan mengurus kebutuhan dirinya. Barangsiapa menyingkirkan sebuah kesusahan hidup dari seorang muslim niscaya Allah akan menyingkirkan kesulitan hidupnya pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

☘Sahabat, mari kita bantu mengurangi kesulitan para korban bencana alam dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukannya.

Donasi dapat dikirimkan melalui 👇

🌟 Taiwan
👉 Kuahao di alamat

🌟 no.155, Hanzhong street, wenhua Dist, Taipe City (Inggris)
🌟 臺北市萬華區漢中街155號 (Mandarin)
Atas nama Lala, 0970 285 617

👉 via rekening
Atas nama: LAELATUL FAJRIAH, 00010230874391

🌟Indonesia
4241-01-000778-50-2
BRI AN/ASRINA

Atau

Rekening Peduliku
Mandiri 114.00.0571772.6
BCA 023 099 4200
CIMB Syariah 860003909500
BNI Syariah
0116404323
Bak Muamalat
3510026553
a.n. Yayasan Daarut Tauhiid
☎️ 081541213828

Informasi lebih lanjut

Cp Indonesia
Asrina Suryadi
Eko Yunianto

Taiwan
Cynde Alhafshah Salafiyah
Azizah Noersty
Lailafaah
Jazakumullah Khairan untuk partisipasi dan bantuan sahabat

Ayo! RAme-RAme Peduli Banjir Indonesia

Banjir kini kembali merendam beberapa wilayah di Indonesia. Bukan hanya di Ibu kota Jakarta yang sudah menjadi langganan banjir  setiap tahunnya. Banjir juga telah melanda beberapa wilayah di Indonesia seperti kabupaten Bandung, Cirebon, Bekasi, Brebes, Kendal, Pandeglang, Banten, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Madura, Probolinggo, Cilacap, Lampung dan wilayah lainnya.

Dalam musibah banjir ini  banyak korban yang dievakuasi ke tempat penggungsian sekitar yang lebih aman dan ada juga yang tetap memilih bertahan tinggal di rumah masing-masing menunggu air surut. Relawan penanggulangan bencana dan bahkan mungkin pemerintahpun kewalahan dalam mengurusi musibah  banjir yang terjadi hampir disetiap wilayah secara bersamaan ini.

Lembaga Sosial kemanusiaan DPU Darut Tauhid juga menurunkan relawan SATGUNA (Santri Penanggulangan Bencana) untuk membantu korban banjir yang tersebar di beberpa lokasi.

Tim DPU Darut Tauhid Taiwan bekerja sama dengan Sahabat Fillah  mengajak sahabat sekalian untuk bersama-sama memikul beban saudara kita yang menjadi korban musibah banjir yang terjadi di Tanah Air Indonesia .

#Ayo! Rame-rame Peduli Banjir Indonesia

Sedikit bantuan Sahabat semua akan sangat berharga bagi mereka saudara kita!! Agar rezeki yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. sebagaimana sabda beliau” Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah ”! 

Donasi dapat dikirimkan melalui 👇

🌟 Taiwan
👉 Kuahao di alamat

🌟 no.155, Hanzhong street, wenhua Dist, Taipe City (Inggris)
🌟 臺北市萬華區漢中街155號 (Mandarin)
Atas nama Lala, 0970 285 617

👉 via rekening
Atas nama: LAELATUL FAJRIAH, 00010230874391

🌟Indonesia
4241-01-000778-50-2
BRI AN/ASRINA

Atau

Rekening Peduliku
Mandiri 114.00.0571772.6
BCA 023 099 4200
CIMB Syariah 860003909500
BNI Syariah
0116404323
Bak Muamalat
3510026553
a.n. Yayasan Daarut Tauhiid
☎️ 081541213828

Informasi lebih lanjut

Cp Indonesia
Asrina Suryadi
Eko Yunianto

Taiwan
Cynde Alhafshah Salafiyah
Azizah Noersty
Lailafaah
Jazakumullah Khairan untuk partisipasi dan bantuan sahabat