JANGAN LUPA UNTUK BERBAGI

Bagi sebagian orang berbagi mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya karena banyak manfaat yang telah mereka rasakan. Berbagi memang proses sederhana tapi berat untuk dilakukan jika tidak terbiasa, untuk berbagi tidak harus dengan nilai nilai yang bisa di ukur dengan materi karena filosofi berbagi itu cukup sederhana

Berbagi adalah sebuah proses memberi dengan apa yang kita punya pada diri kita ,berbagi ilmu,pengetahuan,materi dll,dengan tujuan membantu memberikan keringanan bagi mereka yang membutuhkan.  Sebagai seorang muslim kita biasa menyebut berbagi dengan kata sedekah. sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang, karena sedekah identik dengan orang yang ‎pemurah dan suka memberi. Bagaimana bisa? Orang yang bersedekah akan rela memberikan ‎apa yang mereka punya serta mengikhlaskan apa yang mereka usahakan dengan tenaga dan ‎waktunya. Sebenarnya di balik proses memberi ada banyak manfaat diantaranya keberkahan rizki, hati menjadi tentram,menumbuhkan rasa kekeluargaan, menumbuhkan sikap dermawan, dan yang paling utama dengan berbagi, kita akan mendapat banyak pahala, kelimpahan kebahagiaan, entah itu berupa rezeki, hal-hal yang bersifat menguntungkan atau yang lain.

 

Allah Ta’ala berfirman;  “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7).. “Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa harta hanyalah titipan Allah. karena Allah Ta’ala firmankan “Hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” Hakikatnya, harta tersebut adalah milik Allah. Allah Ta’ala yang beri kekuasaan pada makhluk untuk menguasai dan memanfaatkannya serta Allah juga yang akan memberi balasannya.

Mengingat banyak suadara-saudara kita yang membutuhkan uluran bantuan, dengan cara ini semoga kita dapat belajar memaknai arti hidup, bahwa hidup bukan untuk diri sendiri melainkan untuk bermanfaat bagi orang lain juga, meskipun itu hal sederhana. dengan kata lain orang itu berguna dan membantu bagi orang yang membutuhkan.

Dengan berbagi juga mengingatkan kita untuk hidup sederhana dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selama kita mampu berbagi meski itu hanya dengan sedikit ‎saja menarik wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang indah dan manis  kepada orang lain, mengapa tidak kita lakukan?

Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu”! (HR. At-Tirmidzi)

 

Oleh; Siti Nur Azizah (DPU Darut Tauhid Cabang Taiwan )

Kejutan Hidup

Hidup ini penuh dengan segala macam kejutan-kejutan.
Banyak hal yang telah matang menjadi buah fikir, dirancang sedemikian rupa, dijadikan dalam agenda, dipanjatkan untuknya doa-doa, ternyata hanyut bersama rajutan hari-hari, tenggelam ke dasar lautan khayal dan mimpi yang tak terwujud.

📝Bak coretan warna-warni, dan aneka bentuk dan corak yang telah dimulai pelukis dan tak rampung terselesaikan, dibiarkan terbang bersama hembusan angin takdir.

📌Sebaliknya ada hal-hal yang terkadang tak pernah hadir di alam angan, tak berwujud di alam mimpi, tiba-tiba menjadi nyata dan hadir di hadapan, lebih indah dari mimpi-mimpi masa silam.

💢Lintasan peristiwa yang pernah dialami, senantiasa mengajarkan kenaifan manusia untuk merancang mimpi-mimpi mereka sendiri tanpa meminta petunjuk kepada Zat yang menentukan segala alur kehidupan anak manusia.

🔹Mimpi-mimpi indah yang dibangun di alam khayal, ternyata menjadi tak indah lagi ketika terwujud. Bahkan menjadi duri dalam daging yang tak lekang bersama gugusan hari-hari. Tinggallah penyesalan yang berkepanjangan sekiranya tak diredam dengan iman kepada goresan tinta takdir yang telah mengering.

📌Hamba yang paling bahagia adalah yang memasrahkan segala urusannya kepada Zat Yang mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak, meridhoi segala keputusanNya, senantiasa bertanya dan bermusyawarah dalam mewujudkan mimpi masa depannya, mencari ridhoNya dalam segala derap langkah dan gerak.

Oleh:Ustadz Abu Fairuz Ahmad,MA

Sahabat Taat ku

Assalamu’alaikum sahabatku ,yang semoga selalu dalam lingdungan Allah serta bimbingan dalam ketaatan kepada-Nya. Aamiin. Bagiku Sahabat adalah orang ke-tiga  setelah keluarga, dan saudara, yang peduli dan dekat denganku.  seseorang yang berperangai baik yang tak pernah bosan mengingatkan dan tak pernah marah hanya karena hal sepele… karena dia sangat baik. Dan tidak  hanya terbatas satu orang saja untuk disebut sahabat, semua yang baik lebih dari sahabat. Seperti yang sempat ku kirimkan kepada seseorang  kemarin dulu. aku ingin menulisnya kembali untuk sahabat semua teruntuk dia. (stiker senyum malu )
……………………………………………….
Sahabatku… kita tak lahir di tempat yang sama
bahkan hidup kita pun jauh berbeda
sikap, sifat, gaya, cara kita tersendiri
benci, murka, marah, duka pun tersendiri
tapi kita disatukan impian yang sama
diperjalankan dengan langkah tak beda
digandengkan dengan cita-cita tak ternilai
diikat dengan harga yang takkan terbeli
kerap kali kita berbeda pendapat dan berselisihbagiku aku benar, bagimu kamu lebih benar
bagiku kamu salah, bagimu aku lebih salah
begitulah kisah kita diuji, apakah karena Allah?
berteman memang tak mudah, karena harus memahami
berteman memang tak gampang, ada pengorbanan disana
terkadang aku berpikir haruskah sendiri berjalan
seringkali aku tak tahan, mungkin lebih baik sendiri

menempuh perjalanan ini sendiri, selesai lebih lekas
tak perlu memikirkan siapapun, selain diri sendiri
tak usah sakit hati, sebab tak dihiraukan dan dimengerti
tapi itukah yang sebenarnya aku inginkan??
Tidak, proses itulah sebenarnya harta, bukan hasil
Sebab semua siap dengan hasil, tapi tidak dengan proses

Kita bisa lebih cepat sendiri, tapi tidak akan jauh
Canda, tawa, ceria, duka, lara yang dibagi, itulah arti
Aku ditanya tentang arti engkau bagiku, aku pun tak tahu
Yang jelas bersamamu aku malu bermaksiat, aku jauh dari dosa

Dengan amalan dan tutur lisanmu aku lebih mudah mengingat Allah
Itulah arti engkau bagiku, sahabat dalam ketaaatan
Saat manusia di dalam kebingungan, saat kita semua dikumpulkan
Senantiasa berharap engkau dan aku dipanggil Allah Ar-Rahman
Diteduhkan kita dengan naungan-Nya, dilegakan kita dengan wajah-Nya

Dan dikatakan pada kita, dengan suara-Nya yang sudah kita duga “Dimanakah orang-orang yang saling mengasihi karena keagungan-Ku?”
“Masuklah surga, engkau dan sahabat yang engkau cintai karena Aku”
“Dan yang lebih mencintai saudaranya, akan mendapatkan tempat lebih tinggi
Dan saat itu, kau dan aku, “kita” akan bersyukur, telah mencinta karena-Nya

Uhibbukum fillah, duhai sahabatku, sungguh aku mencintai kalian semua karena Allah

@By, Az. Noersty
#Maafkan_aku

Berprasangka Baik Terhadap Kehendak-Nya

Assalaamu’alaikum.. Sahabat yang ingin berbagi kisah hijrahnya dipersilahkan bisa hubungi kami SahabatFillah, setiap dari kita pastinya memiliki kisah hijrahnya masing-masing. dan berharapa dari kisah tersebut dapat memberi motivasi sahabat semua untuk berhijrah dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Aamiin. Ini adalah artikel ukhty fillah pertama yang dikirimkan kepada kami “baca #Yuuk!!.

#Aku hambaAllah dari indramayu (N.A.2410) Dan ini kisah ku yang ingin menjadi penghuni Surganya Allah.
Keputusan yang luar biasa ketika saya memantapkan hati dan diri untuk hijrah kejalan Allah untuk bisa masuk ke Surga nya Allah. Sebenarnya saya bukan orang yang baru pertama kali mengenakan jilbab, saya sudah cukup lama mengenakan jilbab namun jilbab yang saya gunakan masih belum sempurna bahkan bisa dikatan jauh dari sempurna. Saya masih menjalankan kewajiban saya sebagai seorang muslimah untuk memakai jilbab dan tidak mengerti bahkan tidak paham apa itu jilbab dan mengapa jilbab itu sangat wajib bagi kaum muslimah.
kisah hijrahku
Tiap hari saya mencari dan mengejar hidayah Allah untuk memantaskan diri, belajar agama, mengkaji isi Al Quran dan memahami maknanya. Sehingga saya sadar jika jilbab bukan hanya sekedar kewajiban, bukan hanya sekedar menutup. Tapi jilbab lebih dari mengajarkan banyak hal, jilbab telah menjaga ku dari banyak hal yang buruk. Menjaga sikap ku, menjaga kata ku, menjaga tingkah ku, menjaga hati dan tentu saja menjaga aurat ku dari pandangan nakal para pria.
Namun tidak semudah yang dibayangkan ketika aku memutuskan untuk hijrah dari jilbab gaul menuju jilbab syar’i. Banyak ujian dan cobaan yang datang dari Allah, mulai dari ujian kebaikan hingga ujian keburukan. Ujian kebaikan yang Allah berikan adalah ketika aku diberikan jodoh yang luar biasa, tidak pernah berhenti bersyukur pada Allah. Karna Allah memberikan jodoh yang baik akhlaknya, ibadahnya, rupanya dan sikapnya.Ujiannya, mampukah aku menjaga kehormatan ku dan kehormatan suami ku saat suami ku pergi keluar rumah untuk mencari nafkah. Mampukah aku menjaga harta ku dan keluarga ku. Tapi aku yakin jika aku mampu karna Allah Maha pemberi Keyakinan dan Janji Allah tidak pernah ingkar. Dengan Bismillah aku coba untuk dihari pertamaku berjilbab syar’i, Alhamdulillah Puji Syukur Kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala
langkah pertama diberikan kemudahan dan kelancaran, ujian demi ujian ku coba jalani dan atasi, satu persatu ujian terlewati.
Ada ujian yang paling berat adalah ketika orang disekitar kita melihat dan memandang sebelah mata akan perubahanku. Sejak aku memutuskan untuk hijrah, aku menarik diri dari pergaulan. Pergaulan yang tadinya suka bergosip, bergunjing dan berkumpul padahal tidak ada banyak manfaat akhirat yang ku dapat. Perubahan ku itu membuat banyak anggapan bahkan omongan yang tidak enak sekali untuk didengar, namun tak kuindahkan semua itu, anggap saja cobaan dan berfikir bahwa penilaian manusia tidaklah penting. Mau dinilai bagus oleh manusia atau oleh Allah Yang Maha Pemberi Nilai lebih baik. Hanya berharap Ridho dan Berkah Allah saja.
Alhamdulillah, hingga kini aku terus berusaha untuk istiqomah dengan jilbab syar’i ku dan ketengan hati jiwa dan raga yang kudapat membuat ku merasa bahwa Allah sangatlah mencintai ku. Wujud rasa syukurku mungkin dengan tetap konsisten, istiqomah dan taat pada Allah.
InsyaAllah Allah memberikan Rahmat dan Berkah yang melimpah. Aamiin.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. QS. Ar-Ra’d:11”

*Apa pun kondisi Kita saat ini, jika Jika mau berubah, maka kita harus mengubah diri kita sendiri.
Maka Allah akan mengubah Kita..

@By; N.A

Karena Gadget, Jangan Sampai Mata Dan Hati Menjadi Buta

Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

Bismillahirrahmanirahim

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan berkah, semoga Allah limpahkan kepada hamba dan rasul-Nya; Nabi kita Muhammad beserta keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.

Amma ba’du. Nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada kaum muslimin adalah hidayah Islam dan pembebasan dari kegelapan menuju cahaya. Hidayah Islam merupkan nikmat yang tidak dapat dibandingkan dengan nikmat apa pun. Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada seorang Muslim, setelah Islam, ialah nikmat akal dan kesehatan. Maka, sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘azza wa jalla atas nikmat ini ialah menggunakan nikmat tersebut dalam rangka taat kepada Allah dan untuk hal-hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Selain itu, juga tidak menggunakan nikmat ini untuk bermaksiat kepada Allah dan untuk hal-hal yang dapat memadaratkan di dunia dan akhirat.

Dewasa ini, penggunaan gadget adalah suatu hal yang sangat marak dan lumrah. Ini merupakan nikmat, bila dimanfaatkan untuk kebaikan, dan menjadi bencana, bila digunakan untuk keburukan. Orang berakal, yang ingin menasehati diri sendiri, ialah yang hanya menggunakan barang-barang tersebut untuk kebaikan di dunia dan akhirat, seperti: untuk komunikasi yang mubah dan menimba ilmu yang bermanfaat.

Adapun penggunaan gadget untuk selain tujuan di atas, yang dapat menimbulkan madharat bagi seorang muslim di dunia dan akhirat, maka wajib dihindari. Hal ini agar ia selamat dari penyakit buta mata dan hati. Ini mengingat bahwa cahaya yang berasal dari ponsel (dan semisalnya) dapat menurunkan kemampuan mata, bila dibarengi dengan intensitas yang tinggi dalam bermain gadget. Bahkan, terkadang bisa menyebabkan kebutaan; hilangnya nikmat mata. Lebih dari itu, juga bisa menyebabkan buta hati. Hal yang bisa menyebabkan seorang muslim terkena berbagai macam penyakit syahwat yang dapat merusak akhlak dan penyakit syubhat yang dapat merusak akal. Allah ‘azza wa jalla telah menjelaskan akan bahaya buta hati melalui firman-Nya:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Sebab, bukanlah mata yang menjadi buta, tetapi hati yang ada di dalam dadalah yang menjadi buta” (Qs. Al Hajj: 46).

Maksudnya, kebutaan yang menimpa hati adalah kebutaan hakiki yang menyebabkan kerugian di dunia dan akhirat. Dan hal ini disebabkan karena meninggalkan jalan petunjuk dan meniti jalan kesesatan, sebagaimana yang Allah kisahkan tentang kaum Nabi Shaleh:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk, (Qs. Fushshilat: 17).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia menjadi tertipu, yaitu: sehat dan waktu luang.” (Hr. Bukhari, no. 6412).

Hadits ini merupakan hadits pertama dalam Kitab Raqa’iq dari Shahih Bukhari. Maknanya, barangsiapa yang memanfaatkan kesehatan dan waktu luang pada hal-hal yang dapat mendatangkan kebaikan maka akan beruntung. Dan barangsiapa yang memanfaatkannya untuk hal-hal selain itu maka ia tertipu dan rugi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang berbau syahwat”. (Hr. Bukhari, No. 6478 dan Muslim, No. 7130 dengan lafazhnya).

Maknanya, jalan menuju surga itu sulit dan melelahkan; butuh perjuangan melawan setan dan hawa nafsu yang selalu menyuruh pada keburukan. Oleh karen itu, seorang muslim harus bersabar dalam ketaatan meskipun terasa berat sebab hasilnya pasti terpuji. Sementara itu, jalan menuju neraka penuh dengan hal-hal berbau syahwat yang disenangi jiwa. Ada yang haram dan ada pula yang mubah (boleh) namun berlebihan dan melampaui batas. Karena itu, seorang muslim harus bersabar; jangan sampai berbuat maksiat meskipun jiwa cenderung melakukannya. Sebab, akhir daripada kemaksiatan adalah kerugian. Ketaatan memang terasa berat bagi jiwa sebab ia pahit dan tak terlihat manisnya sedangkan kemaksiatan terasa ringan dilakukan karena ia terasa manis dan tak terlihat rasa pahitnya.

Bila laki-laki menggunakan gadget untuk melihat wanita (yang tidak halal) dan wanita menggunakan untuk melihat laki-laki (yang tidak halal) serta perilaku keji lain, maka hal ini termasuk perilaku zina, sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim(hadits no. 6754) yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya. Ia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari. Zina kedua mata adalah memandang, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memegang (wanita yang bukan mahram), zina kaki adalah melangkang, zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan semua itu.”

Fitnah yang ditimbulkan gadget sangatlah besar dan berbahaya berhubung ia ada dalam genggaman orang dewasa maupun anak kecil; ada di rumah mereka siang dan malam. Kepedulian para ayah dan siapa saja yang mempunyai kekuasaan khusus terhadap keselamatan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab mereka dari penyalahgunaan ponsel (untuk tujuan buruk, pen) adalah wajib ‘ain berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla:

يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 6)

Juga sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kalian. Seorang imam (kepala negara) adalah pemimpin dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki (kepala rumah tangga) adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinanya.” (Hr. Bukhari, no 893 dan Muslim, no: 4724 dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kaum muslimin untuk mengerjakan semua kebaikan, di mana pun mereka berada, baik pemerintah maupun rakyatnya, laki-laki maupun perempuan, yang besar maupun yang kecil. Juga menjaga mereka dari semua bentuk keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Memperkenankan doa.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad berserta keluarga dan para sahabatnya.

***

Madinah, 10 Shafar 1438 H

Diterjemahkan dari artikel berjudul ihdzaruu ‘ama bashaa’irikum wa abshaarikum bi an nazhar fii al jawwaalaat wa syibhuhaa ayyuhal muslimun karya Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr.

Sumber: http://al-abbaad.com/articles/677810

http://muslim.or.id

 

Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah Teroris (1)

Sanggahan kepada yang mencemooh cadar, jenggot dan celana cingkrang

Para pembaca yang semoga selalu mendapatkan taufik dan rahmat Allah ta’ala. Saat ini kaum muslimin terlihat begitu bersemangat dalam beragama. Berbeda dengan masa orde baru dahulu, saat ini umat Islam terlihat sudah mulai perhatian dengan ajaran agamanya. Kita banyak melihat di jalan-jalan, wanita-wanita sudah banyak yang memakai jilbab. Walaupun memang ada pula yang cuma sekedar menutup kepala, namun ini sudah menunjukkan adanya kemajuan dibanding beberapa tahun yang silam. Di samping itu sangat sering kita melihat pula beberapa di antara mereka memakai penutup wajah (cadar). Namun sayang, masyarakat sering mencemooh wanita yang berpakaian seperti ini. Sampai-sampai sebagian orang malah menyebut pakaian seperti itu sebagai pakaian ‘ninja‘.

Juga masih banyak contoh lain seperti di atas. Misalnya saja orang yang berjenggot dijuluki ‘kambing’. Atau orang yang celananya cingkrang (di atas mata kaki) disebut ‘celana kebanjiran’. Bahkan lebih parah lagi orang-orang yang modelnya semacam ini disebut ‘teroris’ dan wanita-wanita yang bercadar disebut istri-istri teroris.

Yang perlu kita tanyakan adalah apakah julukan seperti ini diperbolehkan dalam agama ini atau mungkin dipermasalahkan. Semoga tulisan ini dapat menjawab pertanyaan ini dengan cara mengembalikannya dan menimbangnya melalui timbangan yang paling adil yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mungkin Sebagian Orang Belum Tahu

Sering sekali kita melihat sebagian orang malah mencemoohkan orang yang sebenarnya adalah orang-orang yang komitmen dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang dicemoohkan ini di antaranya adalah orang yang memakai cadar dan diberi gelar dengan ‘si ninja’. Juga orang yang berjenggot dikatakan ‘kambing’. Atau pun orang yang memakai celana di atas mata kaki dikatakan ‘Mas celananya kebanjiran ya!’. Masih banyak sebutan yang lain untuk orang-orang semacam ini, bahkan menyebut mereka sebagai ‘teroris’. Sebaiknya kita bahas terlebih dahulu ketiga hal tersebut agar kaum muslimin tidak salah sangka bahwa hal ini bukan merupakan bagian dari syariat Islam.

Mengenai Cadar (Penutup Wajah)

Perlu diketahui bahwasanya menutup wajah itu memiliki dasar dari Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlepas apakah menutup wajah merupakan suatu yang wajib ataukah mustahab (dianjurkan). Kita dapat melihat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para wanita,

لاَ تَنْتَقِبُ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبِسُ الْقَفَّازِيْنَ

Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, Al Baihaqi, Ahmad dari Ibnu Umar secara marfu’ -yaitu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-). Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika menafsirkan surat An Nur ayat 59 berkata, “Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.”

Sebagai bukti lainnya juga, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Ummahatul Mukminin (Ibunda orang mukmin yaitu istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah :

  1. Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata, “Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.” (HR. Hakim. Dikatakan oleh Al Hakim: hadits ini shohih. Hal ini juga disepakati oleh Adz Dzahabi)
  2. Dari Shafiyah binti Syaibah, dia berkata, “Saya pernah melihat Aisyah melakukan thowaf mengelilingi ka’bah dengan memakai cadar.” (HR. Ibnu Sa’ad dan Abdur Rozaq. Semua periwayat hadits ini tsiqoh/terpercaya kecuali Ibnu Juraij yang sering mentadlis dan dia meriwayatkan hadits ini dengan lafazh ‘an/dari)
  3. Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya.” (HR. Ibnu Sa’ad)

Juga hal ini dipraktekkan oleh orang-orang sholeh, sebagaimana terdapat dalam riwayat berikut.

Dari ‘Ashim bin Al Ahwal, katanya, “Kami pernah mengunjungi Hafshoh bin Sirin (seorang tabi’iyah yang utama) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekaligus menutup wajahnya. Lalu, kami katakan kepadanya, ‘Semoga Allah merahmati engkau…’” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Sanad hadits ini shohih)

Riwayat-riwayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengenakannya bahkan hal ini juga dilakukan oleh wanita-wanita sholehah sepeninggal mereka. (Lihat penjelasan ini di kitabJilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani, 104-109, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Edisi terjemahan ‘Jilbab Wanita Muslimah, Media Hidayah’)

Lalu bagaimana hukum menutup wajah itu sendiri? Apakah wajib atau mustahab (dianjurkan)? Berikut kami akan sedikit menyinggung mengenai hal tersebut.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab 33: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah ta’ala juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur 24 : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Dari tafsiran yang shohih ini terlihat bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah mustahab (dianjurkan).

(Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amr Abdul Mun’im Salim, hal. 14 dan Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani, edisi terjemahan ‘Jilbab Wanita Muslimah‘)

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.
(Penuntut Ilmu di Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel http://www.muslim.or.id

Mengucapkan Selamat Natal bagi Muslim??

Assalamu’alaikum sahabatku…

Sedikit cerita saja….

Sebelum saya hijrah, lebih tepatnya masih tinggal di kampung halaman Indonesia tercinta, dengan mayoritas penduduknya beragam kepercayaan salah satunya nasrani. Bahkan saya banyak berteman dengan mereka.

Saya tahu perayaan mereka, bahkan dulu saya bertamu dan ikut membantu persiapannya. Sampai mengucapkan selamat pun saya angap hal yang lumrah karena banyak yang melakukannya.

Kala saya merantau di negara yang jumlah Muslimnya minoritas, alhmadulilah atas izin Allah Subhanahu Wata’ala hidayah itu menyapa menerangi dan menuntun ke jalan pemahaman tentang hal yang masih tabu.

Saya tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh.!! Saya juga tahu bertamu untuk memenuhi undangan mereka dan mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal kerabat dan teman banyak yang berbeda akidah.

Saya tahu tak perlu merayakan bersama,tak perlu turut serta dan mendukung cukup membiarkan saja.  karena prinsip akidah seorang muslim “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagimu agamamu, bagiku agamaku (QS. Al Kafirun:6)
Kalian silakan rayakan, Karena bagi kami toleransi antar umat beragama itu membiarkan bukan ikut-ikutan.

Sekarang untuk melakukan hal itu sepertinya gak rela apalagi ridha mengucapkan, Takut murka Allah. Seperti yang kita ketahui mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus.

Padahal prinsip Islam adalah “lam yalid wa lam yuulad” Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.

Jika sahabat masih ucapkan, sama saja sahabat mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.

Insya Allah saya sekarang, berusaha tidak ucapkan lagi … Meskipun mereka tetap memberi ucapan. jangan sampai akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Baik dengan mereka itu boleh saja, selama bukan ranah agama.

Saya, anda, kita Muslim, masih ucapkan selamat Natal..???

Masih mendukung….? Masih merayakan bersama….?

Waspadalah-waspadalah …

Harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.

Tugas kita hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq

 

by; Noersty