Berprasangka Baik Terhadap Kehendak-Nya

Assalaamu’alaikum.. Sahabat yang ingin berbagi kisah hijrahnya dipersilahkan bisa hubungi kami SahabatFillah, setiap dari kita pastinya memiliki kisah hijrahnya masing-masing. dan berharapa dari kisah tersebut dapat memberi motivasi sahabat semua untuk berhijrah dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Aamiin. Ini adalah artikel ukhty fillah pertama yang dikirimkan kepada kami “baca #Yuuk!!.

#Aku hambaAllah dari indramayu (N.A.2410) Dan ini kisah ku yang ingin menjadi penghuni Surganya Allah.
Keputusan yang luar biasa ketika saya memantapkan hati dan diri untuk hijrah kejalan Allah untuk bisa masuk ke Surga nya Allah. Sebenarnya saya bukan orang yang baru pertama kali mengenakan jilbab, saya sudah cukup lama mengenakan jilbab namun jilbab yang saya gunakan masih belum sempurna bahkan bisa dikatan jauh dari sempurna. Saya masih menjalankan kewajiban saya sebagai seorang muslimah untuk memakai jilbab dan tidak mengerti bahkan tidak paham apa itu jilbab dan mengapa jilbab itu sangat wajib bagi kaum muslimah.
kisah hijrahku
Tiap hari saya mencari dan mengejar hidayah Allah untuk memantaskan diri, belajar agama, mengkaji isi Al Quran dan memahami maknanya. Sehingga saya sadar jika jilbab bukan hanya sekedar kewajiban, bukan hanya sekedar menutup. Tapi jilbab lebih dari mengajarkan banyak hal, jilbab telah menjaga ku dari banyak hal yang buruk. Menjaga sikap ku, menjaga kata ku, menjaga tingkah ku, menjaga hati dan tentu saja menjaga aurat ku dari pandangan nakal para pria.
Namun tidak semudah yang dibayangkan ketika aku memutuskan untuk hijrah dari jilbab gaul menuju jilbab syar’i. Banyak ujian dan cobaan yang datang dari Allah, mulai dari ujian kebaikan hingga ujian keburukan. Ujian kebaikan yang Allah berikan adalah ketika aku diberikan jodoh yang luar biasa, tidak pernah berhenti bersyukur pada Allah. Karna Allah memberikan jodoh yang baik akhlaknya, ibadahnya, rupanya dan sikapnya.Ujiannya, mampukah aku menjaga kehormatan ku dan kehormatan suami ku saat suami ku pergi keluar rumah untuk mencari nafkah. Mampukah aku menjaga harta ku dan keluarga ku. Tapi aku yakin jika aku mampu karna Allah Maha pemberi Keyakinan dan Janji Allah tidak pernah ingkar. Dengan Bismillah aku coba untuk dihari pertamaku berjilbab syar’i, Alhamdulillah Puji Syukur Kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala
langkah pertama diberikan kemudahan dan kelancaran, ujian demi ujian ku coba jalani dan atasi, satu persatu ujian terlewati.
Ada ujian yang paling berat adalah ketika orang disekitar kita melihat dan memandang sebelah mata akan perubahanku. Sejak aku memutuskan untuk hijrah, aku menarik diri dari pergaulan. Pergaulan yang tadinya suka bergosip, bergunjing dan berkumpul padahal tidak ada banyak manfaat akhirat yang ku dapat. Perubahan ku itu membuat banyak anggapan bahkan omongan yang tidak enak sekali untuk didengar, namun tak kuindahkan semua itu, anggap saja cobaan dan berfikir bahwa penilaian manusia tidaklah penting. Mau dinilai bagus oleh manusia atau oleh Allah Yang Maha Pemberi Nilai lebih baik. Hanya berharap Ridho dan Berkah Allah saja.
Alhamdulillah, hingga kini aku terus berusaha untuk istiqomah dengan jilbab syar’i ku dan ketengan hati jiwa dan raga yang kudapat membuat ku merasa bahwa Allah sangatlah mencintai ku. Wujud rasa syukurku mungkin dengan tetap konsisten, istiqomah dan taat pada Allah.
InsyaAllah Allah memberikan Rahmat dan Berkah yang melimpah. Aamiin.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. QS. Ar-Ra’d:11”

*Apa pun kondisi Kita saat ini, jika Jika mau berubah, maka kita harus mengubah diri kita sendiri.
Maka Allah akan mengubah Kita..

@By; N.A

Advertisements

Benarkah Ajaran Memakai Cadar Tidak Ada Di Zaman Nabi?

Cadar atau penutup wajah telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlepas apakah menutup wajah merupakan suatu yang wajib ataukah sunnah.

Bukti Adanya Ajaran Cadar dalam Islam

Kita dapat melihat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang akan berihrom. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para wanita,

لاَ تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقَفَّازَيْنِ

Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.”

Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ketika menafsirkan surat An Nur berkata, “Ini menunjukan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.”

Sebagai bukti lainnya, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah:

Pertama: Dari Asma’ binti Abu Bakr, dia berkata,

كنا نغطي وجوهنا من الرجال وكنا نمتشط قبل ذلك في الإحرام

Kami biasa menutupi wajah kami dari pandangan laki-laki pada saat berihram dan sebelum menutupi wajah, kami menyisir rambut.”

Kedua: Dari Shafiyah binti Syaibah, dia berkata,

رَأَيْتُ عَائِشَةَ طَافَتْ بِالْبَيْتِ وَهِيَ مُنْتَقَبَةٌ

Saya pernah melihat Aisyah melakukan thowaf mengelilingi ka’bah dengan memakai cadar.”

Ketiga: Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata,

لما اجتلى النبي صلى الله عليه وسلم صفية رأى عائشة منتقبة وسط الناس فعرفها

“Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya.”

Juga hal ini dipraktekkan oleh orang-orang sholeh, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari ‘Ashim bin Al Ahwal, katanya,

كَنَا نَدْخُلُ عَلى حَفْصَةَ بْنَتِ سِيْرِيْنَ وَقَدْ جَعَلَتِ الْجِلْبَابُ هَكَذَا : وَتَنَقَّبَتْ بِهِ فَنَقُوْلُ لَهَا : رَحِمَكِ اللهُ

“Kami pernah mengunjungi Hafshoh bin Sirin (seorang tabi’iyah yang utama) yang ketika itu dia menggunakan jilbabnya sekaligus menutup wajahnya. Lalu, kami katakan kepadanya ‘Semoga Allah merahmati engkau…”

Riwayat-riwayat di atas secara jelas menunjukan bahwa praktek menutup wajah sudah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bercadar, juga wanita-wanita sholehah sepeninggal mereka mengenakannya.

Bukti dari Perkataan Ulama Syafi’iyah

Perkataan berikut adalah bukti-bukti bahwa cadar termasuk ajaran Islam sejak masa silam, bukan ajaran yang baru. Yang menyuarakan seperti ini adalah ulama besar Syafi’iyah yang banak jadi rujukan para kyai di negeri kita.

Pendapat Ibnu Hajar Al Asqolani

Beliau adalah di antara ulama besar Syafi’yah yang memiliki kitab rujukan kaum muslimin yaitu Fathul Bari sebagai penjelasan dari kitab Shahih Al Bukhari. Ibnu Hajar rahimahullahu pernah mengatakan, “Laki-laki sama sekali tidak diperintahkan untuk berniqob (memakai penutup wajah) agar wanita tidak melihat mereka. … Dari masa ke masa, laki-laki itu selalu terbuka wajahnya (tidak memakai penutup wajah), sedangkan wanita selalu keluar (rumah) dalam keadaan wajahnya tertutup.”

Pendapat Jalaluddin Muhammad bin Al Mahalli

Beliau adalah salah satu di antara dua penulis kitab tafsir Al Jalalain. Beliau menjelaskan surat Al Ahzab ayat 59, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka).” (QS. Al Ahzab: 59).

Jilbab adalah pakaian yang menutupi wanita. Yaitu diberi keringanan menampakan satu mata saja ketika keluar (rumah) karena ada kebutuhan. Seperti itu lebih mudah dikenal sebagai orang merdeka, beda halnya dengan budak (yang wajahnya terbuka). Oleh karenanya, janganlah wanita yang menutup rapat auratnya disakiti, dia sungguh jauh berbeda dengan budak perempuan yang membuka wajahnya. Dan orang munfik dulu biasa menyindir (menganggu) wanita yang terbuka auratnya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu karena enggan menutup aurat. Allah menyayangi kalian sehingga memerintahkan kalian untuk menutup aurat.

Pendapat Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi

Beliau adalah penulis kitab tafsir Al Jalalain bersama Jalaluddin Al Mahalli dan keduanya adalah ulama besar Syafi’iyah. Ketika menjelaskan surat Al Ahzab 59, beliau rahimahullahu menjelaskan tafsir firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilababnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak digangggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).

Ayat ini menerangkan perintah hijab bagi seluruh wanita. Maksud ayat tersebut adalah memerintahkan untuk menutup kepala dan wajah wanita. Sedangkan hal ini tidak diwajibkan atas budak wanita.

Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia membicarakan ayat tersebut dengan mengatakan, “Allah telah memerintahakan para wanita beriman jika mereka keluar karena ada hajat untuk menutup kepalanya dengan jilbab dan menampakkan satu mata saja.”

Demikian sebagian bukti bahwa ulama Syafi’iyah tidak menganggap aneh cadar (penutup wajah). Bahkan mereka menyatakan wanita memang harus demikian agar lebih menjaga diri mereka.

Bagaimanakah hukum menutup wajah itu sendiri? Apakah wajib atau sunnah?

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilababnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak digangggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab 33: 59).

Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya.” (QS. An Nuur 24: 31).

Berdasarkan tafsiran Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Makhul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Dari tafsiran yang shohih di atas dapat disimpulkan bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah sunnah (dianjurkan).

Setelah kita ketahui bahwa hukum menutup wajah adalah sunnah, walau demikian tetap seorang muslim tidak boleh mencela orang yang bercadar. Karena sudah terbukti bahwa menutup wajah bagi muslimah termsuk ajaran Islam sehingga tidak boleh dicemooh.

***

Penulis: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

diketik ulang dari buku “Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris” karya Ust. Muhamamd Abduh Tuasikal

Artikel Muslimah.Or.id

Mengucapkan Selamat Natal bagi Muslim??

Assalamu’alaikum sahabatku…

Sedikit cerita saja….

Sebelum saya hijrah, lebih tepatnya masih tinggal di kampung halaman Indonesia tercinta, dengan mayoritas penduduknya beragam kepercayaan salah satunya nasrani. Bahkan saya banyak berteman dengan mereka.

Saya tahu perayaan mereka, bahkan dulu saya bertamu dan ikut membantu persiapannya. Sampai mengucapkan selamat pun saya angap hal yang lumrah karena banyak yang melakukannya.

Kala saya merantau di negara yang jumlah Muslimnya minoritas, alhmadulilah atas izin Allah Subhanahu Wata’ala hidayah itu menyapa menerangi dan menuntun ke jalan pemahaman tentang hal yang masih tabu.

Saya tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh.!! Saya juga tahu bertamu untuk memenuhi undangan mereka dan mengucapkan selamat pun tidak boleh. Padahal kerabat dan teman banyak yang berbeda akidah.

Saya tahu tak perlu merayakan bersama,tak perlu turut serta dan mendukung cukup membiarkan saja.  karena prinsip akidah seorang muslim “Lakum diinukum wa liyadiin”. Bagimu agamamu, bagiku agamaku (QS. Al Kafirun:6)
Kalian silakan rayakan, Karena bagi kami toleransi antar umat beragama itu membiarkan bukan ikut-ikutan.

Sekarang untuk melakukan hal itu sepertinya gak rela apalagi ridha mengucapkan, Takut murka Allah. Seperti yang kita ketahui mereka meyakini bahwa Isa itu bagian dari yang tiga. Teori trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus.

Padahal prinsip Islam adalah “lam yalid wa lam yuulad” Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan.

Jika sahabat masih ucapkan, sama saja sahabat mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan.

Insya Allah saya sekarang, berusaha tidak ucapkan lagi … Meskipun mereka tetap memberi ucapan. jangan sampai akidah dan keyakinan rela dikorbankan cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik. Baik dengan mereka itu boleh saja, selama bukan ranah agama.

Saya, anda, kita Muslim, masih ucapkan selamat Natal..???

Masih mendukung….? Masih merayakan bersama….?

Waspadalah-waspadalah …

Harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak. Hisab di sisi Allah itu sungguh berat.

Tugas kita hanyalah memberi penjelasan, Sedangkan hidayah milik Allah. Wallahu waliyyut taufiq

 

by; Noersty

SEBAB-SEBAB LEMAHNYA IMAN & CARA MENGOBATINYA

Assalamu’alaikum sahabat fillah,

Apa kabar dengan iman kita hari ini….??  Karunia yang paling berharga dalam hidup manusia adalah agamanya dan iman kepada Rabbnya. Dan sesungguhnya iman seseorang kepada Rabbnya, sikap membenarkan janji dan ancaman-Nya, mentaati-Nya, mentaati rasul-Nya, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah buah keimanan yang dengannya akan tercapai kebahagiaan di dunia dan keberuntungan serta keselamatan di akhirat.
Iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Sehingga manusia dituntut selalu waspada dan berusaha agar imannya tidak lemah, kurang atau bahkan hilang.
.
Diantara faktor-faktor lemah iman adalah:
.
1. Terjatuh kepada dosa dan maksiat
.
2. Kerasnya hati
.
3. Malas mengerjakan ibadah dan ketaatan
.
4. Tidak terpengaruh dengan Al Quran
.
5. Tidak marah ketika perkara-perkara yang diharamkan Allah dilakukan
.
6. Kikir dengan harta
.
7. Enggan mempelajari ilmu syar’i
.
8. Sempit hati
.
9. Lalai
.
10. Cinta popularitas
.
11. Meningggalkan teladan yang shaleh
.
12. Banyak sibuk dengan dunia
.
13. Banyak sibuk dengan istri-istri dan anak-anak.
.
.
Diantara obat lemah iman adalah konsisten mengerjakan amal-amal shaleh, diantaranya:
.
1. Menjaga shalat lima waktu
.
2. Membaca Al Quran dengan tadabbur
.
3. Merutinkan dzikir
.
4. Melakukan tafakkur terhadap makhluk-makhluk Allah
.
5. Melakukan shaum sunnah
.
6. Mengerjakan shalat malam
.
7. Mengantarkan jenazah
.
8. Menjenguk orang sakit
.
9. Berbakti kepada kedua orang tua dan bersilaturahmi
.
10. belajar ilmu syar’i dan mengajarkannya
.
11. Membantu orang lain
.
12. Mengingat mati dan waspada dari su`ul khatimah.
.

Sahabat fillah, semoga kita semua dimudahkan dalam mengerjakan amal-amal shaleh dan istiqomah didalam mengerjakannya, Aamiin.

 

#DuniaHijab