Kejutan Hidup

Hidup ini penuh dengan segala macam kejutan-kejutan.
Banyak hal yang telah matang menjadi buah fikir, dirancang sedemikian rupa, dijadikan dalam agenda, dipanjatkan untuknya doa-doa, ternyata hanyut bersama rajutan hari-hari, tenggelam ke dasar lautan khayal dan mimpi yang tak terwujud.

📝Bak coretan warna-warni, dan aneka bentuk dan corak yang telah dimulai pelukis dan tak rampung terselesaikan, dibiarkan terbang bersama hembusan angin takdir.

📌Sebaliknya ada hal-hal yang terkadang tak pernah hadir di alam angan, tak berwujud di alam mimpi, tiba-tiba menjadi nyata dan hadir di hadapan, lebih indah dari mimpi-mimpi masa silam.

💢Lintasan peristiwa yang pernah dialami, senantiasa mengajarkan kenaifan manusia untuk merancang mimpi-mimpi mereka sendiri tanpa meminta petunjuk kepada Zat yang menentukan segala alur kehidupan anak manusia.

🔹Mimpi-mimpi indah yang dibangun di alam khayal, ternyata menjadi tak indah lagi ketika terwujud. Bahkan menjadi duri dalam daging yang tak lekang bersama gugusan hari-hari. Tinggallah penyesalan yang berkepanjangan sekiranya tak diredam dengan iman kepada goresan tinta takdir yang telah mengering.

📌Hamba yang paling bahagia adalah yang memasrahkan segala urusannya kepada Zat Yang mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak, meridhoi segala keputusanNya, senantiasa bertanya dan bermusyawarah dalam mewujudkan mimpi masa depannya, mencari ridhoNya dalam segala derap langkah dan gerak.

Oleh:Ustadz Abu Fairuz Ahmad,MA

Advertisements

Meneladani Keshalihan Maryam dalam Al-Quran

Bagi Sahabat , yang hendak mencari teladan keshalihan, maka tak usah bingung, karena dalam Al-Qur`an, banyak sekali yang bisa dijadikan teladan, di antaranya adalah: Maryam. Berdasarkan kandungan ayat-ayat-Nya, kita bisa menyibak keshalihan dari wanita shalihah yang merupakan ibu dari Nabi Isa `alaihis salam. Al-Qur`an menggambarkan, “Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.”(QS. Al-Anbiya[21]: 91)

Di antara keshalihan yang patut diteladani oleh setiap wanita dari sosok ibu Nabi Isa `alaihis salam ini ialah:

1. Menjaga kehormatan dan kesucian dirinya (At-Tahrim[66]: 12 dan QS. Al-Anbiya[21]: 91)

Sejak kecil Maryam sangat pandai menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Maka sangatlah pantas jika kemudian, ia menjadi wanita terpilih untuk mengemban amanah yang sangat berat dari Allah, sebab amanah itu tidak akan bisa diemban oleh wanita yang tidak bisa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.

2. Tabah dan sabar menjalankan titah Allah

Meskipun dia difitnah dengan sangat keji oleh orang karena hamil tanpa nikah(QS. Maryam[19] 28), Maryam tetap berusaha tabah dan sabar dalam menjalankan amanah Tuhan.

3. rajin dan taat beribadah (QS. Ali Imran[3]: 43)

Maryam diperintah Allah untuk menjadi perempuan yang qanitah. Dalam bahasa Arab, kata tersebut berarti orang yang rajin dan kontinu dalam beribadah. Menjalankan ibadah bukan karena mood, tapi karena kesadaran mendalam bahwa itu adalah dari Allah yang Maha Lembut. Dalam Surah At-Tahrim[66]: 12, dikatakan bahwa ia adalah bagian dari orang-orang yang qonitin.

4. Menjaga dan memelihara shalatnya

Masih dalam ayat yang sama(QS. Ali Imran[3]: 43), Maryam diperintah untuk sujud dan ruku` bersama orang-orang yang rajin ruku`. Ini menggambarkan bahwa Maryam sangat menjaga shalatnya. Maka tidak mengherankan jika, hari-harinya lebih banyak difokuskan untuk beribadah kepada Allah. Sesuai dengan doa ibunya yang hendak mendedikasikan anaknya hanya untuk kepentingan Tuhannya(QS. Ali Imran[3]: 35).

5. Memiliki hubungan yang sangat erat dengan Allah

Di samping rajin beribadah, kita bisa melihat kedekatan Maryam dengan Allah dari kisah Nabi Zakaria `alaihis salam yang heran karena di mihrab Maryam sudah tersedia makanan, padahal tidak ada manusia yang menyediakan. Orang yang tidak mempunyai kedekatan yang sangan intens dengan Allah, tidak akan mungkin dikaruniai rezeki tanpa hisab, sebagaimana halnya, Maryam binti Imaran(QS. Ali Imran[3]: 37).

6. Menjaga diri dari yang bukan mahramnya

Dari awal Maryam sudah dikenal sebagai perempuan yang sangat pandai menjaga diri. Sangat wajar jika dirinya sangat menjaga diri dari laki-laki yang bukan mahramnya. Dengarkan kata-kata beliau ketika didatangi malaikat yang menyerupa seorang laki-laki, “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”(QS. Maryam[19]: 18). Demikianlah, reaksi wanita shalihah, ketika bersama orang yang bukan mahramnya.

7. Mendidik anaknya secara baik

Isa `alaihis salam adalah bukti rill bagaimana ia mampu menjadi ibu yang sukses bagi anaknya. Beliau sukses mendidik Isa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, berperangai lembut tidak kasar, rajin ibadah, dan senantiasa membawa kedamaian dalam hidupnya(QS. Maryam[19]: 31-33). Ini berarti, ciri wanita shalihah adalah yang pandai dalam mendidik anaknya.

8. Membenarkan kalimat Allah

Dalam Surah At-Tahrim, ayat: 12, dikatakan bahwa Maryam washoddaqot bi kalimaati rabbiha wa kutubihi(membenarkan kalimat Allah dan kitab-kitabNya). Karenanya dalam beberapa penjelasan ulama tafsir, salah satu julukan Maryam iala as-Shiddiiqoh(pandai membenarkan Tuhan). Apa saja yang dititah Tuhan, ditaati, dibenarkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan, ada 8 ciri keshalihan yang bisa diteladani dari figur Maryam dalam al-Qur`an: pertama, menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Kedua, tabah dan sabar menjalankan titah Allah. Ketiga, rajin dan taat beribadah. Keempat, menjaga dan memelihara shalatnya. Kelima, memiliki hubungan yang sangat erat dengan Allah. Keenam, menjaga diri dari yang bukan mahramnya. Ketujuh, mendidik anaknya secara baik. Kedelapan, membenarkan kalimat Allah. Wallahu a`lam bi al-Shawab.

 

Sumber; http://www.ummi-online.com/meneladani-keshalihan-maryam-dalam-al-quran.html

Berhenti Berlebihan dalam Berpakaian, Malu dengan Kebiasaan Istri Rasulullah

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. Hal itu semua merupakan ayat-ayat Allah, supaya mereka berdzikir mengingat-Ku.” (QS. al-A’raf : 26)

Sahabat, Allah telah memberikan kita nikmat berpakaian, bahkan saat ini jenis pakaian muslimah sungguh luar biasa beragamnya. Ada banyak motif, warna, model, sungguh cantik. Tapi sudah tahukah kita bagaimana kebiasaan istri Rasulullah dalam berpakaian? Bukankah kita mengaku ingin mengikuti jejak beliau?

Sebagaimana Rasulullah yang biasa memakai pakaian bertambal dari bahan yang kasar, keluarga beliau pun memakai pakaian yang amat sederhana. Urwah bin Zubair berkata, “Aisyah tidak suka memperbarui bajunya (menggantinya dengan baju baru) melainkan menambalnya atau membaliknya.”

Semua pakaian istri Rasulullah itu berharga sangat murah sehingga Hasan al-Bashri pernah memperkirakan harga muruth (pakaian yang dibalutkan ke tubuh) istri beliau hanya dengan jumlah enam dirham.

Mungkin kita belum bisa sederhana dalam berpakaian sebagaimana ummul mukminin mencontohkan, tapi bagaimana kalau kita mencoba membiasakan menyedekahkan satu baju lama ketika kita membeli satu baju baru. Sedekahkan pula satu jilbab lama ketika kita mendapat satu jilbab baru. Mudahkan?

Satu hal lagi, pastikan hanya membeli pakaian mewah atau mahal untuk keperluan yang benar-benar penting saja. Jangan sampai kita memiliki begitu banyak pakaian mahal hanya untuk dikoleksi.

“Barangsiapa meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja yang ingin ia pakai.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

sumber; http://www.ummi-online.com/berhenti-berlebihan-dalam-berpakaian-malu-dengan-kebiasaan-istri-rasulullah.html

3 Hal yang Tampak Sepele Ini Bisa Membuat Rasulullah Bersedih Jika Melihatnya

Sahabatku, beberapa hal berikut ini tampak sangat sepele atau tidak penting, akan tetapi jika Rasulullah melihat umatnya melakukan hal-hal ini,sangat mungkin akan membuat beliau bersedih. Apa saja hal yang dimaksud?
1. Makan dan minum dengan tangan kiri
Jika tangan kanan kita memang tidak ada, tentu saja kita memiliki keringanan untuk makan dan minum dengan tangan yang ada. Akan tetapi jika kita memiliki dua belah tangan utuh namun mengabaikan perintah Rasulullah untuk makan dan minum menggunakan tangan kanan, duh… sungguh mirisnya.
“Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim no. 2020).
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia menyuruh kepada perbuatan buruk dan kemungkaran” (QS. An Nur: 21)
Bahkan betapa pentingnya perkara ini, Rasulullah mengajarkannya pada anak kecil. Apakah kita telah mengajarkan anak kita untuk melakukannya juga?
Hadits dari Umar bin Abi Salamah radiyallahu ‘anhu, “Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam,pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (HR. Bukhari no.5376, Muslim no.2022)
Jangan sampai kita tidak mempedulikan aturan ini karena kesombongan:
“Bahwasanya ada seorang lelaki makan dengan tangan kirinya di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka Rasulullah pun bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Lelaki itu pun berkata, “Aku tidak bisa.”Beliau bersabda, “Kamu tidak bisa?, (Pada hakikatnya) tidaklah dia menolaknya melainkan karena sifat sombong”. (Berkata perawi yakni Iyas), “Maka setelah itu, dia pun benar-benar tidak mampu mengangkat tangan kanannya (untuk menyuapkan makanan) sampai ke mulutnya.” [HR Muslim: 2021].
2. Menyebut nama nabi dan Rasul tanpa menghormati mereka
Bahkan pada sesama manusia saja kita bisa bersikap hormat hanya karena pangkat dan jabatannya lebih tinggi dari diri kita, lalu mengapa kepada para Nabi dan Rasul kita tidak memberi penghormatan? Misalnya dengan bershalawat ketika nama nabi Muhammad shalalaahu ‘alaihi wassalam disebutkan.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab : 56)
Ketahuilah bahwa termasuk orang yang pelit dan celaka jika mendengar nama Muhammad shalallaahu ‘alaihi wassalam disebutkan namun tidak bershalawat.
“Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bersholawat untukku.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)
Mengapa celaka? Tentu saja karena orang-orang yang malas bershalawat ini akan sulit mendapat pertolongan syafaat dari Rasulullah kelak di akhirat. Perlakukan para Nabi dan Rasul yang lain dengan penghormatan pula setiap nama mereka disebutkan, yakni dengan menyebut gelar ‘alaihissalam yang merupakan doa untuk mereka.
3. Menyisakan makanan
Jangankan menyisakan makanan, ketika Rasulullah makan, maka beliau akan memastikan piring dan jari beliau bersih tanpa sisa sedikit pun.
“Apabila seseorang di antara kalian makan, maka janganlah dia membersihkan tangannya sehinggalah dia menjilatnya atau menjilatkannya (kepada orang lain)”. [HR al-Bukhariy: 5456, Muslim: 2031, at-Turmudziy: 1801 dan Ahmad: I/ 221].
Mengapa hal ini menjadi begitu penting? Karena dalam setiap makanan terkandung keberkahan, jangan sampai kita membiarkan keberkahan tersebut terbuang.
Dari Jabir bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjilat jari jemari dan piring dan bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang manakah yang ada berkahnya”. [HR Muslim: 2033 (133) dan Ahmad: III/ 177].
Selain itu, orang-orang yang beriman dan menjalankan sunah Rasulullah sudah pasti akan berhati-hati dan amat menakar makanan yang diambilnya agar tidak berlebihan.
Demikianlah 3 hal yang tampak sepele namun sebaiknya tidak kita lakukan. Ada banyak hal lainnya yang belum terbahas, tapi setidaknya kita bisa mulai dengan 3 hal tersebut.
semoga bermanfaat.

#Artikel; Majalah_ummi

Fatwa Ulama: Hukum Menerima Hadiah Dari Non-Muslim Di Hari Raya Mereka

Fatwa Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah

Soal:
Apa hukum menerima hadiah dari orang kafir terutama pada hari raya mereka?

Jawab:
Sudah ma’ruf (diketahui bersama) bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallamterkadang menerima hadiah dari orang kafir. Dan terkadang beliau menolak hadiah dari sebagian para raja dan pemimin kaum kafirin. Oleh karena itu para ulama memberikan kaidah dalam menerima hadiah dari orang kafir. Demikian juga halnya hadiah dari ahli maksiat dan orang yang menyimpang.

Yaitu, jika hadiah tersebut tidak berpotensi membahayakan bagi si penerima, dari segi syar’i (agama), maka boleh.! Namun jika hadiah itu diberikan tujuannya agar si penerima tidak mengatakan kebenaran, atau agar tidak melakukan suatu hal yang merupakan kebenaran, maka hadiah tersebut tidak boleh diterima. Demikian juga jika hadiah itu diberikan dengan tujuan agar masyarakat bisa menerima orang-orang kafir yang dikenal tipu daya dan makarnya, maka saat itu tidak boleh menerima hadiah.

Intinya, jika dengan menerima hadiah tersebut akan menimbulkan sesuatu berupa penghinaan atau setidaknya ada tuntutan untuk menentang suatu bagian dari agama kita, atau membuat kita diam tidak mengerjakan apa yang diwajibkan oleh Allah, atau membuat kita melakukan yang diharamkan oleh Allah, maka ketika itu hadiah tersebut tidak boleh diterima.

Sumber: http://www.olamayemen.net/Default_ar.aspx?ID=8369

Artikel Muslim.Or.Id